Muara Enim, Faktadetiknews- Histori keberangkatan kapal laut Tampomas II yang ditandai peluit keberangkatan.
Sinyal pelabuhan berbunyi di Tanjung Priok, tanpa disadari sebagai titik awal tragedi Tahun 1980.
Bermula dari pembelian sebuah kapal penumpang “mewah” seharga US$ 8,3 juta. Namun, di balik cat baru yang mengkilap, tersembunyi fakta kelam bahwa kapal itu yang sebelumnya bernanah MV Great Emerald, kapal buatan Jepang tahun 1956 yang sudah berusia 25 tahun.
Di dunia pelayaran, usia itu adalah masa pensiun armada perairan.Termasuk rumor yang menyebutkan bahwa kapal ini sebelumnya sudah ditolak oleh perusahaan lain karena pertimbangan kondisinya namun entah bagaimana ceritanya hingga Tampomas II bisa ” masuk “ke perairan nusantara.
Sebuah Firasat yang Diabaikan
Sabtu, 24 Januari 1981. Di Pelabuhan Tanjung Priok, KMP Tampomas II bersiap membelah Laut Jawa menuju Ujung Pandang (Makassar). Keberangkatan ini sudah tertunda satu hari karena kerusakan mesin mendadak sebuah peringatan dini yang diabaikan.
Di atas kertas (manifes), kapal membawa sejumlah penumpang dan awak kapal.Di geladak kendaraan (car deck), ratusan mobil, truk, dan sepeda motor diparkir berhimpitan tanpa jarak aman, menunggu waktu untuk menjadi bom waktu.
Minggu malam, 25 Januari 1981. Kapal memasuki perairan Masalembo yang terkenal ganas. Ombak musim angin barat menghantam lambung kapal, membuat kendaraan di dek bawah bergesekan.
Sekitar pukul 20.00 WITA, petaka dimulai. Percikan api baik dari puntung rokok yang dibuang sembarangan atau gesekan logam menyambar bensin yang bocor dari kendaraan.
Kepanikan melanda awak kapal. Mereka berlari mengambil alat pemadam api ringan (APAR). Namun, tragisnya, mereka terpaku menatap tabung tersebut. Petunjuk penggunaan masih tertulis dalam Huruf Kanji (Jepang) yang tidak mereka pahami. Sebagian tabung macet, sebagian kosong. Mereka mencoba menyalakan hidran air, namun mesin pompa macet.
Dalam sekejap, api melahap dek kendaraan. Asap hitam pekat membumbung, listrik mati total (blackout). Tanpa pengeras suara, tanpa komando, ribuan manusia terjebak dalam gelap dan asap. Jalur evakuasi yang sempit menjadi bottleneck mematikan; banyak yang tewas terinjak atau tercekik asap sebelum sempat melihat langit.
Senin, 26 Januari 1981. Matahari terbit menyinari pemandangan horor di tengah laut. KMP Tampomas II terombang-ambing, miring, dan terbakar hebat.
Harapan sempat muncul ketika kapal KM Sangihe, Istana VI, dan kapal lain datang mendekat. Namun, alam tidak bersahabat. Ombak setinggi 3-5 meter membuat kapal penolong tidak bisa merapat tanpa risiko benturan fatal. Penumpang harus bertaruh nyawa: tetap di kapal yang terbakar atau terjun ke laut yang ganas.
Siang itu, hujan deras turun. Penumpang bersorak, mengira itu pertolongan Tuhan. Namun, karena panasnya pelat baja kapal yang membara, air hujan itu seketika menguap menjadi uap panas yang justru melepuhkan kulit mereka. Di tengah kekacauan, terdengar suara ledakan dari ruang mesin. Bahan bakar kapal mulai terbakar.
Selasa, 27 Januari 1981, pukul 12.45 WIB. Batas daya tahan kapal berakhir.
Terjadi ledakan besar. Air laut menyerbu masuk. Perlahan namun pasti, bagian buritan (belakang) kapal terangkat. KMP Tampomas II berdiri tegak lurus, seolah memberi hormat terakhir, sebelum meluncur deras ke dasar laut sedalam 60 meter.
Efek suction (sedotan air) yang dahsyat menyeret ratusan penumpang yang masih mengapung di sekitarnya ikut masuk ke dalam pusaran air. Laut Jawa kembali tenang, menyisakan puing-puing dan tangis.
Musisi Iwan Fals mengabadikan tenggelamnya Kapal Tampomas II melalui yang masih bisa didengar hingga sekarang.
KMP Tampomas II bersemayam di dasar Laut Masalembo, menjadi monumen abadi yang harus kita ambil hikmahnya.(Red)






