Jakarta, Berita Faktanews — Serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada 28 Februari lalu kembali memantik perhatian dunia terhadap dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah.
Konflik ini tidak hanya mencerminkan rivalitas lama, tetapi juga memperlihatkan pergeseran peta kekuatan global, di mana Iran semakin dekat dengan China dan Rusia sebagai penyeimbang dominasi Barat.
Sejak Revolusi Iran 1979, hubungan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel berada dalam kondisi permusuhan. Di sisi lain, Iran membangun kemitraan strategis dengan Rusia dan China, terutama dalam sektor energi dan teknologi.
Akar Kerja Sama Nuklir Iran
Menurut Bichara Khader, Profesor Emeritus Université Catholique Louvain, Belgia, kerja sama Iran dengan Rusia dan China bermula sejak 1990-an ketika program nuklir Iran kekurangan dukungan Barat.
“Pada saat itulah Iran beralih ke China dan Rusia yang bersedia mengambil peran yang ditinggalkan negara-negara Barat,” ungkapnya.
Kerja sama tersebut melahirkan sejumlah proyek penting, di antaranya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr melalui kontrak dengan Rusia pada 1999, serta transfer teknologi nuklir dari China sejak 1990.
Sanksi AS dan Dampaknya ke Eropa
Kemitraan Iran dengan Rusia dan China memicu respons keras dari Amerika Serikat. Washington menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan yang berinvestasi di sektor energi Iran pada pertengahan 1990-an.
Kebijakan ini tidak hanya berdampak pada Iran, tetapi juga menimbulkan ketegangan dengan negara-negara Eropa yang memiliki kepentingan bisnis di sana.
Negara-negara Eropa bahkan merasa kedaulatannya terganggu akibat kebijakan ekstrateritorial AS yang membatasi hubungan dagang mereka dengan Iran.
Israel dan Isu Ancaman Nuklir
Di sisi lain, Israel secara konsisten menyuarakan kekhawatiran terhadap program nuklir Iran. Pemerintah Israel menilai Iran sebagai ancaman eksistensial dan tidak segan mengancam akan menghancurkan fasilitas nuklir negara tersebut.
Meski demikian, Iran dinilai belum pernah secara langsung terlibat dalam konfrontasi terbuka dengan Israel, meskipun diduga mendukung sejumlah serangan melalui pihak ketiga.
Negara Teluk dan Kekhawatiran Regional
Ketegangan juga dirasakan negara-negara Teluk, khususnya Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang memandang potensi nuklir Iran sebagai ancaman stabilitas kawasan.
Kekhawatiran ini menjadi salah satu faktor yang mendorong normalisasi hubungan antara Israel dengan sejumlah negara Arab, termasuk Uni Emirat Arab dan Bahrain, dalam beberapa tahun terakhir.
Penutup
Serangan terbaru ini menunjukkan bahwa konflik di Timur Tengah tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung erat dengan rivalitas global antara kekuatan besar dunia.
Dengan keterlibatan banyak pihak dan kepentingan strategis yang saling bertabrakan, kawasan ini diperkirakan akan tetap menjadi salah satu titik panas geopolitik dunia dalam waktu dekat.
(R01-R12-Red-BFN)






