PALEMBANG, faktadetiknews.biz.id — PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) mencatat perjalanan kinerja yang dinamis sepanjang 2014 hingga semester I/2026. Dalam lebih dari satu dekade, pendapatan perseroan meningkat lebih dari tiga kali lipat. Namun, pertumbuhan pendapatan tersebut tidak selalu berjalan seiring dengan peningkatan laba bersih.
Berdasarkan laporan keuangan tahunan perseroan, pendapatan PTBA meningkat dari Rp13,08 triliun pada 2014 menjadi sekitar Rp42,65 triliun pada 2025. Sementara itu, laba bersih bergerak lebih fluktuatif dan sempat mencetak rekor Rp12,57 triliun pada 2022 sebelum kembali turun menjadi Rp2,93 triliun pada 2025.
Pada 2014, PTBA membukukan pendapatan Rp13,08 triliun dengan laba bersih Rp1,86 triliun. Setahun kemudian, pendapatan meningkat 5,87% menjadi Rp13,85 triliun, sedangkan laba bersih tumbuh 9,41% menjadi Rp2,04 triliun.
Memasuki 2016, pertumbuhan mulai melandai. Pendapatan hanya tumbuh 1,54% menjadi Rp14,06 triliun, sementara laba bersih turun tipis 1,46% menjadi Rp2,01 triliun.
2017 Jadi Titik Balik
Perubahan signifikan terjadi pada 2017. Pendapatan PTBA melonjak 38,50% menjadi Rp19,47 triliun. Kenaikan tersebut diikuti laba bersih yang tumbuh 123,13% menjadi sekitar Rp4,48 triliun.
Tren positif berlanjut pada 2018. Pendapatan tumbuh 8,71% menjadi Rp21,17 triliun, sementara laba bersih meningkat 12,23% menjadi Rp5,02 triliun. Pada tahun tersebut, laba bersih PTBA untuk pertama kalinya dalam periode pengamatan menembus Rp5 triliun.
Pandemi Menekan Kinerja
Tekanan terhadap kinerja terlihat jelas pada 2020 ketika pandemi Covid-19 memengaruhi aktivitas ekonomi dan industri. Pendapatan PTBA merosot 20,48% menjadi Rp17,33 triliun, sedangkan laba bersih turun 41,17% menjadi Rp2,39 triliun.
Kinerja kemudian berbalik pada 2021. Pendapatan meningkat 68,90% menjadi Rp29,26 triliun, sementara laba bersih melonjak 231,37% menjadi Rp7,91 triliun.
Kenaikan tersebut berlanjut pada 2022. Pendapatan PTBA mencapai Rp42,65 triliun atau tumbuh 45,75% secara tahunan. Pada periode yang sama, laba bersih mencetak rekor Rp12,57 triliun atau meningkat 58,90% dibandingkan tahun sebelumnya.
Memasuki Periode Normalisasi
Setelah mencatat kinerja tertinggi pada 2022, PTBA memasuki periode normalisasi. Pada 2023, pendapatan turun 9,75% menjadi Rp38,49 triliun. Penurunan lebih dalam terjadi pada laba bersih yang merosot 51,42% menjadi Rp6,11 triliun.
Pendapatan kembali meningkat pada 2024 sebesar 11,11% menjadi Rp42,76 triliun. Namun, laba bersih justru kembali turun 16,41% menjadi Rp5,10 triliun.
Pada 2025, pendapatan PTBA relatif bertahan di kisaran Rp42 triliun. Pendapatan tercatat Rp42,65 triliun atau turun tipis 0,26% dibandingkan tahun sebelumnya.
Berbeda dengan pendapatan yang masih bertahan di level tersebut, laba bersih kembali mengalami tekanan. Pada 2025, laba bersih PTBA turun 42,59% menjadi Rp2,93 triliun.
Semester I/2026 Mulai Pulih
Memasuki semester I/2026, tekanan terhadap laba PTBA mulai menunjukkan perbaikan. Perseroan mencatat pendapatan Rp22,03 triliun dengan laba bersih Rp2,65 triliun.
Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, pendapatan PTBA meningkat sekitar 7,7%, sementara laba bersih tumbuh signifikan sebesar 218,1%.
Pergerakan kinerja tersebut menunjukkan bahwa dalam lebih dari satu dekade, pertumbuhan pendapatan PTBA cenderung lebih stabil dibandingkan laba bersih. Pendapatan meningkat dari Rp13,08 triliun pada 2014 hingga berada di atas Rp42 triliun pada 2024–2025.
Sementara itu, laba bersih mengalami volatilitas yang jauh lebih tinggi. Laba PTBA sempat mencapai puncak Rp12,57 triliun pada 2022 sebelum turun menjadi Rp2,93 triliun pada 2025.
Kinerja semester I/2026 menjadi sinyal pemulihan, terutama dari sisi laba bersih yang tumbuh lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
(Red)


















