BANDAR LAMPUNG, faktadetiknews.biz.id — Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda menunjukkan perkembangan yang sedikit lebih menenangkan pada Jumat (11/9/2026) pagi. Setelah kembali mengalami erupsi pada Kamis (10/9) pukul 09.10 WIB, hingga pukul 06.00 WIB belum tercatat erupsi baru.
Asap yang sebelumnya terlihat juga mulai tidak teramati. Namun, kondisi visual gunung masih terbatas karena tertutup kabut, sementara cuaca di sekitar Selat Sunda relatif mendung.
Dengan kondisi tersebut, keadaan GAK lebih tepat disebut mereda, bukan berhenti dan belum dapat dinyatakan aman.
Erupsi terakhir yang terkonfirmasi pada Kamis pagi berlangsung sekitar 17 detik dengan amplitudo maksimum 47 milimeter. Setelah itu, selama sekitar 21 jam tidak tercatat erupsi baru.
Perkembangan tersebut berbeda dibanding beberapa hari sebelumnya. Anak Krakatau sempat mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam, mulai 4 September pukul 23.07 WIB hingga 6 September pukul 00.04 WIB.
Setelah episode erupsi menerus berakhir, aktivitas permukaan berubah menjadi erupsi yang berlangsung secara berkala. Badan Geologi juga mencatat adanya kecenderungan penurunan aktivitas sejak episode tersebut. Meski demikian, status aktivitas vulkanik GAK masih berada pada Level III atau Siaga.
Kegempaan Masih Terjadi
Jeda erupsi selama sekitar 21 jam bukan berarti sistem vulkanik Anak Krakatau telah sepenuhnya tenang.
Data kegempaan hingga Jumat pagi masih menunjukkan adanya aktivitas di bawah permukaan. Tercatat tujuh gempa Low Frequency, empat gempa Hybrid atau Fase Banyak, empat gempa Vulkanik Dangkal, empat gempa Vulkanik Dalam, serta satu tremor menerus.
Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun aktivitas permukaan tampak lebih tenang, dinamika di dalam tubuh gunung masih berlangsung.
Karena itu, tidak terlihatnya asap tidak dapat langsung dimaknai sebagai tanda bahwa aktivitas gunung telah berakhir. Terlebih, pengamatan visual masih terkendala kabut dan cuaca mendung.
Doa dan Ilmu Pengetahuan
Perkembangan aktivitas GAK tersebut terjadi sehari setelah masyarakat Lampung menggelar Salat Istisqa, memohon hujan dan pertolongan Allah SWT di tengah kondisi alam yang tidak bersahabat.
Momentum tersebut tentu menarik perhatian masyarakat. Setelah doa dipanjatkan, Anak Krakatau memasuki jeda erupsi.
Namun, hubungan tersebut tidak dapat dipaksakan sebagai hubungan sebab-akibat.
Secara ilmiah, tidak ada dasar untuk menyatakan Salat Istisqa menyebabkan aktivitas Gunung Anak Krakatau menurun. Aktivitas gunung api harus dijelaskan berdasarkan data kegempaan, erupsi, deformasi, kondisi magma, serta berbagai parameter vulkanik lainnya.
Di sisi lain, bagi masyarakat yang berdoa, ketenangan setelah doa tentu dapat memiliki makna spiritual tersendiri.
Doa berada di wilayah iman, sedangkan erupsi berada di wilayah geologi. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Manusia boleh menengadahkan tangan, tetapi setelah itu tetap harus membaca alam dengan ilmu.
Radius 3 Kilometer Masih Berlaku
Kewaspadaan tetap diperlukan. Badan Geologi masih mempertahankan status GAK pada Level III atau Siaga. Masyarakat maupun pengunjung diminta tidak mendekati kawah aktif dalam radius tiga kilometer.
Pengamatan Jumat pagi menunjukkan angin bertiup lemah ke arah utara dan barat laut, menuju kawasan Pulau Sumatra.
Namun, arah angin permukaan tidak serta-merta menggambarkan seluruh pola pergerakan abu vulkanik. Material vulkanik dapat bergerak berbeda pada ketinggian atmosfer yang berbeda.
Masyarakat yang berada di wilayah terdampak abu juga diminta tetap mengikuti informasi resmi dan menggunakan masker apabila paparan abu kembali terjadi.
Untuk sementara, kabar dari Anak Krakatau memang lebih baik. Gunung yang kembali meletus pada Kamis pagi kini memasuki jeda. Hingga Jumat pukul 06.00 WIB belum ada erupsi baru dan aktivitas permukaan menunjukkan kecenderungan mereda.
Namun, data kegempaan masih menunjukkan sistem di bawah permukaan tetap aktif dan status Siaga belum berubah.
Karena itu, masyarakat boleh menarik napas sedikit lebih panjang dan mensyukuri ketenangan yang datang setelah hari-hari penuh kecemasan. Tetapi satu hal harus tetap diingat: jangan mengubah jeda menjadi kepastian.
(Red)




Tinggalkan Balasan