Tapanuli Tengah Faktadetiknews — Belum pulih dari banjir bandang dan longsor akhir November 2025, warga Desa Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, kembali diterjang banjir pada Rabu (11/2/2026) setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut.
“Banyak yang panik.
Ada juga yang menangis,” ujar Rinilorensa Sinaga (23), salah satu penyintas banjir.
Rini mengatakan, banjir kali ini kembali membangkitkan trauma warga karena lokasinya sama dengan banjir bandang tahun lalu yang menghancurkan rumah mereka. Saat kejadian, ia baru pulang dari gereja dan langsung menyelamatkan diri bersama keluarganya.
Sejak bencana November 2025, Rini dan keluarganya mengungsi di rumah tetangga yang lebih tinggi. Hingga kini, mereka mengaku belum menerima Dana Tunggu Hunian (DTH) sebesar Rp600.000 per bulan maupun kepastian hunian sementara (huntara) atau hunian tetap (huntap).
Banjir terbaru terjadi setelah tanggul darurat berupa tumpukan pasir dan batu di tepi sungai jebol akibat tingginya debit air. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, banjir kembali merusak sejumlah rumah yang sempat diperbaiki warga serta merendam bantuan bahan pangan.
Selain rumah warga, banjir juga merusak kembali sebagian bangunan Gereja HKBP Hutanabolon. Pendeta gereja setempat, Paten Sidabutar, mengatakan tembok gereja yang sedang dibangun kembali hancur terseret banjir.
“Kami sedang membangun tembok gereja yang kemarin hancur, sekarang hancur lagi semua,” ujarnya.
Data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Sumatera Utara mencatat sedikitnya empat kecamatan terdampak banjir bandang, yakni Kecamatan Tukka, Pandan, Sarudik, dan Barus.
Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, menyebut banjir terjadi akibat cuaca ekstrem. Menurutnya, sungai tetap meluap meski pengerukan sedimen telah dilakukan pascabencana tahun lalu. Tanggul darurat kembali jebol sehingga air mengalir deras disertai kayu gelondongan.
Berdasarkan data BNPB, per 13 Februari 2026 masih terdapat sekitar 1.600 warga mengungsi akibat banjir bandang dan longsor di Tapanuli Tengah sejak akhir November 2025. Bencana tersebut menewaskan sedikitnya 130 orang dan menyebabkan ratusan rumah rusak berat.
Pakar kebencanaan dari UPN Veteran Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno, mengingatkan bahwa daerah yang pernah dilanda banjir bandang berpotensi mengalami bencana serupa selama musim hujan masih berlangsung.
Ia menilai penanganan bencana kerap terlalu fokus pada pembangunan fisik, sementara pemulihan sosial-ekonomi dan lingkungan kurang menjadi prioritas.
“Pemulihan lingkungan seharusnya menjadi prioritas karena ancaman bencana bersumber dari kualitas lingkungan yang buruk,” ujarnya.
(R01-R12-Red-BFN)














