banner 728x250
Berita  

KH Masjkur: Jubah Kiai di Garis Depan Sabilillah

banner 120x600
banner 468x60

Nasional, Faktadetiknews. –
Matahari baru saja naik di ufuk timur Singosari, Malang, pada suatu pagi di tahun 1923. Di sebuah sudut desa, seorang pemuda berusia 24 tahun meletakkan batu pertama sebuah bangunan yang ia namai Misbahul Wathan—Pelita Tanah Air. Pemuda itu adalah Masjkur. Di matanya, agama dan cinta tanah air bukanlah dua kutub yang berseberangan, melainkan api yang menyala dalam satu tungku perjuangan.

banner 325x300

Lahir pada 1899, Masjkur merupakan produk tulen pendidikan pesantren yang keras, disiplin, dan berjenjang. Ia bukan tipe santri yang puas berguru pada satu sosok. Pengembaraan intelektualnya melintasi berbagai pusat keilmuan Islam di Jawa dan Madura: dari Pesantren Bungkuk di Malang, berlanjut ke Sidoarjo untuk mendalami Nahwu, Sharaf, dan Fikih, lalu ke Tebuireng di bawah asuhan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari untuk memperdalam hadis. Ia juga menimba ilmu dan “karomah” dari Syaikhona Kholil Bangkalan.

Namun, Pesantren Jamsaren, Surakarta, menjadi titik penting pembentukan wataknya. Di bawah asuhan KH Idris—seorang kiai keturunan pasukan Pangeran Diponegoro yang dikenal keras menentang kolonialisme—Masjkur mulai memahami bahwa keberagamaan tak dapat dipisahkan dari kemerdekaan. Sikap non-kooperatif sang guru terhadap Belanda mengendap dalam nadinya.

Kelak, sikap itu pula yang membuatnya mengganti nama pesantrennya menjadi Nahdlathul Wathan atas saran KH Wahab Chasbullah, menyusul tekanan kolonial yang kian menguat.

Dari Mimbar ke Medan Laga
KH Masjkur dikenal sebagai sosok yang luwes dalam pergaulan, tetapi teguh dalam prinsip. Namanya mulai mencuat di ranah organisasi ketika terpilih sebagai Ketua Cabang NU Malang pada 1932, lalu dipercaya masuk jajaran Pengurus Besar NU di Surabaya pada 1938.

Ujian sejati datang saat Jepang masuk ke Indonesia, disusul ancaman kembalinya Belanda. Masjkur tidak hanya piawai berpidato dari mimbar.

Ia menanggalkan jubah kiainya sejenak untuk mengenakan seragam militer.

Ia mengikuti pendidikan kemiliteran di Bogor pada masa pendudukan Jepang—sebuah langkah strategis yang kelak mengantarkannya menjadi Ketua Markas Tertinggi Sub-Bagian Sabilillah di Malang pada 1945–1947.

Di bawah komandonya, Barisan Sabilillah menjadi kekuatan yang diperhitungkan. Masjkur bukan komandan yang memimpin dari balik meja.

Ia hadir di garis depan, bergerak di antara desingan peluru. Bahkan ketika dipercaya menjabat Menteri Agama dalam sejumlah kabinet—mulai dari kabinet Amir Sjarifuddin hingga kabinet Mohammad Hatta—ia tetap menjalani hidup sebagai pejuang gerilya.

Salah satu fragmen paling kuat dalam hidupnya adalah ketika ia bergerilya di hutan bersama Panglima Besar Jenderal Soedirman, sambil tetap menjalankan fungsi sebagai Menteri Agama. Di satu saku tersimpan instruksi darurat kementerian, di saku lain senjata perjuangan.

Di tengah keterbatasan, ia tetap mengatur jalannya urusan keagamaan: dari pembinaan Kantor Urusan Agama hingga memastikan madrasah tetap berfungsi. Gaji bulanannya saat itu hanya 300 Oeang Repoeblik Indonesia (ORI), yang konon hanya cukup untuk kebutuhan keluarga selama sepekan—sebuah potret asketisme pejabat negara di masa revolusi.

Diplomasi dan Wibawa
Kiprah Masjkur tidak berhenti di medan tempur. Ia juga dikenal sebagai arsitek politik Islam yang cermat dan penuh perhitungan. Pada 1954, ia memprakarsai Konferensi Ulama di Cipanas yang menetapkan Presiden Soekarno sebagai Waliyul Amri Dlaruri bis Syaukah. Langkah ini bukan sekadar simbolik, melainkan strategi untuk memperkuat legitimasi pemerintahan Republik Indonesia di mata umat Islam, sekaligus membendung pengaruh gerakan DI/TII yang mengancam kedaulatan negara.

Di internal Nahdlatul Ulama, Masjkur menjadi pilar stabilitas. Ia menjabat Ketua Umum Tanfidziyah PBNU pasca Muktamar ke-19 di Palembang pada 1952, ketika NU memutuskan keluar dari Masyumi dan berdiri sebagai partai politik mandiri.

Ia bekerja berdampingan dengan KH Wahid Hasyim, di bawah kepemimpinan Rais ‘Aam KH Wahab Chasbullah.
Masjkur menua bersama organisasi yang dicintainya. Hingga akhir hayatnya pada 1992, ia masih tercatat sebagai Mustasyar PBNU.

Ia wafat meninggalkan warisan berupa keberanian yang tenang dan keteladanan yang sunyi. Jasadnya dimakamkan di Singosari, di kompleks Masjid Bungkuk—kembali ke tanah tempat ia pertama kali menyalakan Pelita Tanah Air.

KH Masjkur bukan sekadar kiai, bukan pula semata menteri. Ia adalah jembatan antara tasbih dan bayonet, sajadah dan medan laga.

Sosok yang membuktikan bahwa religiusitas dan nasionalisme bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan dua wajah dari satu pengabdian: pengabdian kepada Tuhan dan Tanah Air.

(R01-R12-Red-BFN)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *