banner 728x250

Rafieq Ingatkan: Kewirausahaan Bukan Hanya Teori, Harus Ada Disiplin dan Manajemen

banner 120x600
banner 468x60

METRO, faktadetiknews.biz.id – Wakil Wali Kota Metro M. Rafieq Adi Pradana membuka launching Program Pemberdayaan Ekonomi Kantin Kontainer di Universitas Muhammadiyah Metro (UMM). Program yang digagas melalui kolaborasi UPZDK PermataBank Syariah, Dompet Dhuafa, dan Universitas Muhammadiyah Metro itu diarahkan untuk mendorong mahasiswa tidak sekadar menerima bantuan, tetapi mampu membangun kemandirian ekonomi.

Rafieq mengapresiasi program tersebut karena dinilainya memiliki orientasi yang lebih panjang dibandingkan sekadar pemberian bantuan untuk memenuhi kebutuhan sesaat. Menurutnya, mahasiswa perlu diberi ruang untuk belajar mengelola usaha sekaligus menghasilkan pendapatan secara mandiri.

banner 325x300

“Saya mengapresiasi UPZDK PermataBank Syariah, Dompet Dhuafa, dan Universitas Muhammadiyah Metro. Yang penting bagi saya bukan bentuk bantuannya, tetapi apakah bantuan itu membuat penerimanya semakin mandiri,” kata Rafieq kepada wartawan, Kamis (27/8/2026).

Ia menilai persoalan ekonomi mahasiswa tidak selalu bisa diselesaikan dengan bantuan tunai. Bantuan yang hanya menyelesaikan kebutuhan hari ini, kata dia, berisiko membuat penerima kembali menghadapi persoalan yang sama ketika bantuan tersebut berhenti.

“Kalau seseorang hanya kita bantu membayar kebutuhan hari ini, masalah hari ini mungkin selesai. Tetapi kalau kita bantu dia mempunyai kemampuan memperoleh penghasilan, dampaknya bisa jauh lebih panjang. Pemerintah tentu berkepentingan agar semakin banyak anak muda Metro yang mampu berdiri secara ekonomi,” ujarnya.

Menurut Rafieq, perguruan tinggi juga memiliki posisi strategis dalam mencetak generasi muda yang tidak hanya siap mencari pekerjaan, tetapi mampu menciptakan lapangan usaha. Kantin Kontainer menjadi salah satu ruang praktik bagi mahasiswa untuk menguji kemampuan kewirausahaan secara langsung.

“Kita tetap membutuhkan anak muda yang siap bekerja, tetapi kita juga membutuhkan anak muda yang mampu membuka usaha. Kalau satu mahasiswa nantinya mampu membangun usaha yang sehat dan mempekerjakan dua atau tiga orang, dampaknya sudah masuk ke persoalan ekonomi kota,” katanya.

Rafieq juga menyoroti pentingnya pemanfaatan dana sosial untuk program yang memiliki efek pemberdayaan. Menurutnya, dana zakat maupun dana sosial harus diberikan kepada pihak yang berhak, namun pada saat yang sama harus mampu mendorong penerima yang potensial agar secara bertahap keluar dari ketergantungan terhadap bantuan.

“Dana zakat dan dana sosial harus sampai kepada orang yang memang berhak, tetapi kita juga perlu mendorong agar penerima yang mampu diberdayakan perlahan mempunyai penghasilan sendiri. Tujuannya bukan membuat orang bergantung pada bantuan,” tegasnya.

Namun, Rafieq mengingatkan agar program pemberdayaan tidak berhenti pada seremoni launching maupun sekadar menyediakan tempat berjualan. Ia menegaskan, mahasiswa penerima manfaat harus benar-benar dibekali kemampuan mengelola usaha agar program tersebut tidak berakhir sebagai proyek jangka pendek.

“Kita jangan mengajarkan kewirausahaan hanya dalam teori. Dalam usaha kecil sekalipun ada soal disiplin, pencatatan uang, kebersihan, harga, mutu produk, dan kepercayaan konsumen. Kalau hal dasar itu tidak dikuasai, usaha akan sulit berkembang,” ucapnya.

Dari sisi Pemerintah Kota Metro, Rafieq menilai kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga sosial, dan dunia usaha perlu diperluas. Pemerintah, menurutnya, tidak mungkin berjalan sendiri dalam menghadapi persoalan ekonomi masyarakat, termasuk membuka peluang usaha bagi generasi muda.

“Pemerintah punya tugas dan anggaran, tetapi kekuatan Kota Metro tidak hanya ada di pemerintah. Kita punya kampus, perbankan, lembaga zakat, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan banyak kelompok yang bisa bekerja bersama. Kolaborasi seperti ini harus kita dorong ketika manfaatnya jelas bagi masyarakat,” bebernya.

Ia menegaskan keberhasilan program Kantin Kontainer nantinya tidak boleh hanya diukur dari berdirinya fasilitas atau ramainya kegiatan saat peluncuran. Ukuran yang lebih penting adalah perubahan kemampuan ekonomi mahasiswa setelah mengikuti program tersebut.

“Bagi saya ukurannya sederhana. Apakah mahasiswa menjadi lebih mampu mengelola usaha, apakah dia memperoleh pendapatan, apakah pengetahuannya bertambah, dan apakah setelah lulus dia punya keberanian serta kemampuan untuk membangun usaha sendiri. Itu yang harus menjadi tujuan,” tandasnya. (*)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *