JAKARTA, faktadetiknews.biz.id – Penyebab kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan mulai terungkap. Salah satu pemicunya diduga berasal dari praktik pembakaran kebun tebu menjelang masa panen yang kemudian merembet hingga menyebabkan kebakaran lahan dalam skala besar.
Kapolda Sumatera Selatan Sandi Nugroho mengungkapkan, pihaknya menemukan kasus pembakaran kebun tebu yang berada di lahan PTPN. Dua orang warga telah diamankan karena diduga melakukan pembakaran tersebut.
Hal itu disampaikan Sandi dalam rapat koordinasi penanganan karhutla bersama Presiden Prabowo Subianto yang disiarkan secara virtual, Senin (24/8/2026).
Menurut Sandi, terdapat kebiasaan membakar tanaman tebu menjelang panen dengan anggapan dapat meningkatkan rendemen sekaligus membuat rasa tebu menjadi lebih manis. Namun, praktik tersebut dilarang karena api berpotensi merembet ke lahan dan kawasan hutan di sekitarnya.
“Ada kebun tebu punya PTPN. Ada anomali tebu itu kalau sudah waktunya mau dipanen apabila dibakar, rendemen akan semakin banyak dan rasanya semakin manis. Tapi itu sudah kami ingatkan sejak awal, itu tidak boleh karena berdampak pada wilayah lainnya,” kata Sandi.
Ia mengatakan, dua orang yang diamankan tersebut selanjutnya menjalani pemeriksaan untuk diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
“Tadi malam kita tangkap dua orang dari masyarakat membakar kebun tebu tersebut dan akan diperiksa sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujarnya.
Selain pembakaran kebun tebu, kepolisian juga menemukan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar. Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, motif utama pelaku adalah untuk mempermudah proses pembukaan lahan.
“Motivasi yang sudah kami periksa rata-rata karena untuk membuka lahan, memudahkan membuka lahan,” kata Sandi.
Sandi menambahkan, selama periode terjadinya karhutla besar di Sumatera, pihaknya telah menangani 15 laporan polisi. Dari seluruh perkara tersebut, sebanyak 17 tersangka telah diamankan dan ditahan untuk menjalani proses hukum.
Sebelumnya, Polda Sumsel juga telah melakukan berbagai langkah pencegahan. Kegiatan diawali dengan apel kesiapsiagaan, kemudian dilanjutkan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat di desa-desa yang rawan karhutla.
“Kami pada waktu awal tahun melaksanakan apel kesiapsiagaan dilanjutkan sosialisasi dan edukasi ke desa dengan para kades, mengoptimalkan Bhabinkamtibmas dan Babinsa memberikan pencerahan tentang larangan pembakaran lahan untuk guna pertanian,” pungkasnya. (Red)


















