JAKARTA, Faktadetiknews.biz.id — Dini hari 1 Oktober 1965 menjadi salah satu malam paling kelam bagi keluarga Jenderal A.H. Nasution. Saat itu, sekelompok pasukan bersenjata mendatangi rumah Nasution di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta. Tujuan mereka adalah membawa Nasution dalam sebuah operasi penculikan yang menjadi bagian dari pergolakan politik dan militer pada masa itu.
Di dalam rumah, suasana berubah menjadi kepanikan. Nasution berusaha menyelamatkan diri setelah mengetahui bahwa dirinya menjadi sasaran. Ia kemudian melompati pagar dan menuju kawasan Kedutaan Besar Irak yang berada tidak jauh dari rumahnya. Namun, dalam kekacauan tersebut, keluarganya tidak semuanya berhasil menyelamatkan diri.
Putri kecil Nasution, Ade Irma Suryani, yang baru berusia lima tahun, berada di dalam rumah bersama keluarganya. Ketika pintu rumah dibuka dalam situasi yang penuh ketegangan, pasukan penyerbu melepaskan tembakan. Ade Irma yang berada dalam gendongan bibinya, Mardiah, terkena tembakan. Tiga peluru mengenai tubuhnya, sementara tangan Mardiah juga terkena tembakan.
Malam itu, Johanna Sunarti, istri Nasution, berusaha menghadapi situasi yang mengerikan sambil memikirkan keselamatan anak-anaknya. Ade Irma kemudian segera dilarikan ke RSPAD Gatot Subroto untuk mendapatkan pertolongan medis.
Kakaknya, Hendrianti Sahara Nasution, yang ketika itu berusia 13 tahun, juga mengalami kejadian traumatis. Dalam upaya menyelamatkan diri dari situasi yang kacau, ia melompat melalui jendela dan mengalami patah tulang kaki.
Di tengah penyerbuan tersebut, ajudan Nasution, Letnan Pierre Tendean, turut menjadi sasaran. Tendean kemudian diculik karena diduga sebagai Jenderal Nasution. Ia dibawa oleh pasukan tersebut dan kemudian menjadi salah satu korban yang dibunuh dalam rangkaian peristiwa 1 Oktober 1965.
Sementara itu, di rumah sakit, perjuangan Ade Irma belum berakhir. Tubuhnya yang masih sangat kecil harus menjalani beberapa tindakan medis akibat luka tembak yang dideritanya. Meski berada dalam kondisi berat, Ade Irma masih berusaha menunjukkan ketegaran seorang anak kecil.
Di tengah rasa sakitnya, ia bahkan berusaha menenangkan kakaknya. Kepada Hendrianti, Ade Irma mengatakan, “Kakak jangan menangis, Ade sehat.”
Kalimat sederhana itu menjadi salah satu bagian paling menyayat dari kisahnya. Seorang anak berusia lima tahun, yang seharusnya berada dalam pelukan keluarganya dan menjalani kehidupan seperti anak-anak lain, justru harus menghadapi akibat dari kekerasan politik dan konflik yang terjadi di sekelilingnya.
Ade Irma juga sempat bertanya kepada ibunya mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada ayahnya. Dengan kepolosan seorang anak, ia bertanya, “Kenapa Ayah mau dibunuh, Mama?”
Pertanyaan itu menggambarkan betapa sedikitnya seorang anak seusianya dapat memahami kekacauan yang terjadi pada malam tersebut. Baginya, yang ia tahu hanyalah ayahnya berada dalam bahaya dan keluarganya sedang mengalami sesuatu yang mengerikan.
Hari demi hari, kondisi Ade Irma semakin memburuk. Berbagai upaya dilakukan untuk menyelamatkan hidupnya, tetapi luka yang dideritanya terlalu berat.
Pada 6 Oktober 1965, lima hari setelah penyerbuan rumah keluarganya, Ade Irma Suryani Nasution akhirnya meninggal dunia. Usianya baru lima tahun.
Keesokan harinya, 7 Oktober 1965, Ade Irma dimakamkan. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga Nasution dan menjadi salah satu kisah paling tragis yang melekat pada peristiwa 1 Oktober 1965.
Jenderal A.H. Nasution berhasil lolos dari upaya penculikan tersebut. Namun, keselamatan dirinya harus dibayar dengan kehilangan seorang putri kecil yang sangat ia cintai.
Ade Irma tidak terlibat dalam konflik politik, tidak memahami perebutan kekuasaan, dan tidak mengetahui mengapa rumah keluarganya diserbu pada malam itu. Ia hanyalah seorang anak berusia lima tahun yang menjadi korban di tengah peristiwa besar sejarah Indonesia.
Karena itulah, kisah Ade Irma Suryani Nasution tidak hanya berbicara tentang sebuah tragedi keluarga. Kisahnya juga menjadi pengingat tentang betapa mahalnya harga yang dapat dibayar oleh orang-orang yang sama sekali tidak terlibat dalam sebuah konflik.
Namanya kemudian terus dikenang dalam sejarah Indonesia sebagai seorang anak kecil yang kehilangan hidupnya di tengah pergolakan politik dan kekerasan pada Oktober 1965.(Red)











