Bura, Pejuang Rakyat dari Jember yang Namanya Hidup dalam Ingatan Masyarakat

JEMBER, Faktadetiknews.biz.id — Di antara nama-nama pejuang yang dikenal dalam sejarah perjuangan kemerdekaan di Jember, seperti Moch. Sroedji dan dr. Soebandi, tersimpan kisah seorang tokoh lokal bernama Bura. Sosok yang disebut berasal dari Desa Jatian, Kecamatan Pakusari, ini dikenang masyarakat sebagai pejuang rakyat yang berani menghadapi pasukan kolonial Belanda.

Berbeda dengan pejuang yang tergabung dalam kesatuan militer formal, Bura dikisahkan sebagai seorang petani yang kemudian memimpin perlawanan rakyat di wilayah Jember bagian utara. Namanya hidup dalam cerita turun-temurun masyarakat, meskipun riwayat perjuangannya masih memerlukan pendokumentasian sejarah yang lebih mendalam.

Menurut kisah yang berkembang di masyarakat, Bura dikenal memiliki kemampuan bela diri atau kanuragan yang membuatnya disegani. Ia disebut memperoleh ilmu tersebut dari KH Abdul Hamid, seorang ulama yang dikaitkan dengan Desa Subo, Kecamatan Pakusari.

Cerita rakyat setempat bahkan menyebut Bura memiliki kekebalan terhadap senjata tajam dan senjata api. Kisah tersebut menjadi bagian dari legenda yang melekat pada sosoknya. Namun, keterangan mengenai kesaktian tersebut perlu ditempatkan sebagai tradisi lisan, bukan fakta sejarah yang telah terverifikasi secara independen.

Memimpin perlawanan rakyat

Keberanian dan pengaruhnya di tengah masyarakat disebut mengantarkan Bura menjadi pemimpin laskar rakyat di wilayah Jember utara, meliputi Mayang, Kalisat, dan Ledokombo.

Dalam narasi perjuangan yang berkembang di masyarakat, Bura disebut tetap bertahan di Desa Jatian ketika pasukan Brigade III/Divisi Damarwulan yang dipimpin Moch. Sroedji menjalankan strategi perpindahan pasukan. Ia dipercaya menjaga wilayah pedalaman sekaligus menghambat pergerakan pasukan Belanda.

Perlawanan yang dikaitkan dengan Bura menggambarkan keterlibatan masyarakat desa dalam mempertahankan kemerdekaan. Perjuangan pada masa itu tidak hanya berlangsung melalui pertempuran pasukan reguler, tetapi juga melibatkan kelompok-kelompok rakyat yang bergerak di wilayah masing-masing.

Ditangkap setelah dikhianati

Kisah mengenai akhir perjuangan Bura menjadi bagian paling tragis dalam ingatan masyarakat. Ia diceritakan menjadi sasaran pencarian pasukan Belanda karena perlawanan yang dipimpinnya.

Menurut cerita tutur setempat, upaya menangkap Bura melibatkan penyusupan mata-mata ke lingkungan laskar rakyat. Dalam keadaan terdesak, pihak Belanda dikisahkan menggunakan ibunya sebagai alat untuk memaksanya menyerah.

Cerita tersebut menggambarkan dilema seorang pejuang yang harus menghadapi pilihan sulit antara meneruskan perlawanan dan menyelamatkan keluarganya.

Bura disebut ditangkap pada 26 Maret 1948 oleh pasukan Detasemen Mayang yang dipimpin Sergeant Majoor P. Sapteno. Ia kemudian dikisahkan dibawa berkeliling wilayah Kalisat sebelum akhirnya digiring ke kawasan Sungai Jatian.

Dalam versi cerita yang diwariskan masyarakat, Bura dihukum mati dengan cara dibakar. Jenazah atau sisa jasadnya disebut dibuang ke sungai sehingga tidak meninggalkan makam yang dapat diziarahi. Rincian mengenai tanggal penangkapan, satuan yang terlibat, dan cara eksekusi tersebut masih perlu dicocokkan dengan arsip militer serta dokumen sejarah yang tersedia.

Monumen Bura, penanda ingatan perjuangan

Untuk menjaga ingatan terhadap sosok Bura, masyarakat setempat mengenal sebuah monumen yang didirikan di kawasan yang dikaitkan dengan akhir hidupnya. Monumen tersebut disebut dibangun atas prakarsa almarhum Basri, sahabat seperjuangannya.

Bangunan berbentuk kubus itu memiliki tulisan “Merdeka atau Mati” serta tugu kecil yang menyerupai Monas dengan ornamen lidah api berwarna emas. Keberadaannya menjadi penanda bahwa kisah perjuangan di tingkat desa juga merupakan bagian dari sejarah kemerdekaan Indonesia.

Bura juga disebut pernah diangkat dalam pementasan drama kolosal perjuangan di Kabupaten Jember. Pementasan semacam itu dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan kembali tokoh-tokoh lokal kepada generasi muda, sekaligus mendorong penelitian yang lebih serius terhadap sumber-sumber sejarahnya.

Menjaga sejarah di luar catatan resmi

Kisah Bura memperlihatkan bahwa ingatan kolektif masyarakat sering kali menyimpan nama-nama yang belum banyak mendapatkan ruang dalam penulisan sejarah formal. Meski demikian, pengakuan terhadap jasa seorang tokoh perlu berjalan beriringan dengan penelitian, penelusuran arsip, serta pengumpulan kesaksian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Apabila wasiat yang dikaitkan dengan Bura mengenai penghargaan pemerintah benar-benar berasal dari tradisi keluarga atau masyarakat yang mengenalnya, kesaksian tersebut juga layak didokumentasikan dan ditelusuri sumbernya.

Terlepas dari berbagai bagian kisah yang masih memerlukan verifikasi, keberadaan cerita, monumen, dan ingatan masyarakat tentang Bura menjadi alasan penting untuk meneliti lebih jauh peran para pejuang lokal dalam mempertahankan kemerdekaan.

Sejarah perjuangan Indonesia tidak hanya dibangun oleh nama-nama besar yang tercatat dalam buku pelajaran. Di tingkat desa, terdapat pula kisah tentang keberanian, pengorbanan, dan perlawanan rakyat yang perlu dihimpun agar tidak hilang ditelan waktu.

Bura dan kisah perjuangannya layak mendapat tempat dalam penelitian sejarah Jember, sehingga generasi mendatang dapat mengenal sosoknya melalui cerita masyarakat sekaligus bukti sejarah yang dapat diuji.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *