Foto: Letnan Jenderal TNI Anumerta Siswondo Parman Bersama Sang Istri Tercinta, Ny. Sumirahayu
JAKARTA, Faktadetiknews.biz.id — Sebelum menikah dengan S. Parman pada 4 Februari 1951, Sumirahayu pernah merasakan pahitnya kehilangan. Suami pertamanya gugur di Peristiwa Madiun 1948. Takdir yang berat, namun tidak pernah mematahkan keteguhan hatinya.
Rumah tangga mereka jauh dari kemewahan. Di kediaman sederhana di Jalan Serang, Menteng, S. Parman menikmati waktu dengan kesederhanaan. Ia gemar memainkan wayang kulit sambil mendengarkan siaran Ki Dalang di RRI, dan merakit miniatur kereta api. Sumirahayu selalu setia menemaninya.
Mereka tidak dikaruniai anak kandung, namun kasihnya penuh untuk anak angkat mereka, Sugiono yang lahir di Cilacap 10 September 1948. Didikan S. Parman tumbuh kuat. Sugiono mengikuti jejak ayahnya menjadi Taruna Akabri 1968 hingga menjadi Letnan Jenderal TNI dan pernah menjadi Komandan Paspampres.
Menjelang 1 Oktober 1965, ada firasat kecil. S. Parman tiba-tiba mengajak istrinya berkeliling ke Cibubur dan Cisalak, seolah ingin menghabiskan waktu lebih lama. Saat melintas di depan Taman Makam Pahlawan Kalibata, ia pernah berpesan agar kelak dimakamkan di sana jika gugur dalam tugas.
Dini hari 1 Oktober 1965, ujian itu datang. Pasukan Tjakrabirawa datang menjemputnya. Dengan berani, Sumirahayu mempertanyakan surat tugas mereka. Sebelum pergi, S. Parman sempat berpesan agar istrinya menghubungi Letjen Ahmad Yani. Bisikan itu menjadi percakapan terakhir mereka.(Red)











