JAKARTA, faktadetikmews.biz.id — Kinerja PT Bukit Asam Tbk (PTBA) berpotensi menguat sepanjang 2026, didorong meningkatnya kebutuhan batu bara domestik, penguatan pasokan ke pembangkit listrik, serta ekspansi infrastruktur transportasi batu bara.
Sebagai salah satu pemasok utama batu bara untuk kebutuhan dalam negeri atau domestic market obligation (DMO), PTBA dinilai memiliki posisi strategis dalam menjaga pasokan energi nasional. Kondisi pemadaman listrik yang sempat terjadi di sejumlah wilayah juga dinilai dapat meningkatkan perhatian terhadap ketersediaan pasokan batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Vinna N. Rachmawati, mengatakan kondisi tersebut berpotensi membuka peluang peningkatan penyerapan penjualan domestik PTBA. Terlebih, pemerintah juga disebut akan mengevaluasi skema harga DMO.
“Kondisi ini berpotensi membuka peluang penyerapan penjualan domestik PTBA. Melihat potensi PTBA yang cukup signifikan sebagai pemasok utama DMO,” ujar Vinna dalam pemaparan virtual Phintraco Sekuritas, dikutip Jumat (24/7/2026).
Menurutnya, evaluasi mekanisme harga DMO dapat menjadi katalis positif bagi kinerja PTBA, terutama apabila skema baru tersebut mampu lebih mencerminkan harga batu bara di pasar.
Phintraco Sekuritas memperkirakan pendapatan PTBA pada 2026 mencapai Rp41,95 triliun, dengan laba kotor Rp8,22 triliun dan laba bersih Rp4,73 triliun. Proyeksi tersebut ditopang ekspektasi pertumbuhan permintaan batu bara domestik serta strategi jangka panjang perusahaan melalui ekspansi transportasi batu bara dan pengembangan bisnis terintegrasi.
Phintraco Sekuritas juga mempertahankan fair value saham PTBA di level Rp2.800 per saham. Jika dibandingkan dengan harga saham PTBA yang ditutup di level Rp2.310 per saham pada perdagangan 3 Juli 2026, target tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 21,21%.
Meski demikian, PTBA tetap menghadapi sejumlah risiko. Investor diingatkan mencermati potensi penerapan windfall tax, bea keluar, serta kebijakan tata kelola sektor sumber daya alam yang berpotensi menekan profitabilitas perseroan.
Laba Kuartal I Melonjak
Pada kuartal I 2026, PTBA mencatatkan kinerja positif. Laba perseroan melonjak 104,8% secara tahunan menjadi Rp801,79 miliar, dengan harga jual rata-rata batu bara (average selling price/ASP) mencapai US$56,68 per ton.
Penjualan pada periode Januari-Maret 2026 didominasi pasar domestik dengan porsi 53%, sedangkan ekspor mencapai 47%. Vietnam menjadi salah satu negara tujuan utama ekspor PTBA.
Dari sisi produksi, volume produksi tercatat 6,62 juta ton, turun 22% secara tahunan. Namun, penjualan relatif stabil di angka 10,16 juta ton, atau hanya terkoreksi 1,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Bidik Produksi 100 Juta Ton
PTBA juga memasang target jangka panjang yang ambisius dengan membidik kapasitas produksi hingga 100 juta ton per tahun mulai 2030.
Untuk mendukung target tersebut, perseroan terus memperkuat infrastruktur transportasi batu bara. Salah satunya melalui proyek jalur angkutan batu bara Tanjung Enim–Keramasan di Palembang yang progres pembangunannya telah mencapai sekitar 84%–85% dan ditargetkan mulai beroperasi pada semester II 2026.
Selain itu, PTBA berencana meningkatkan kapasitas Pelabuhan Tarahan dari 27,5 juta ton menjadi 28 juta ton per tahun. Kapasitas Pelabuhan Kertapati juga akan ditingkatkan dari 8 juta ton menjadi 15,3 juta ton per tahun.
Peningkatan kapasitas kedua pelabuhan tersebut akan dilakukan setelah proyek Tanjung Enim–Keramasan rampung. Dengan penguatan rantai logistik dan peningkatan kapasitas angkutan tersebut, PTBA berupaya memastikan pertumbuhan produksi dan penjualan dapat berjalan beriringan dengan ekspansi bisnis perusahaan.
(Red)


















