banner 728x250

Tembus Rp100 Triliun, Biaya Penyakit Jantung Bebani 26% Anggaran Kesehatan BPJS

banner 120x600
banner 468x60

JAKARTA, Faktadetiknews.biz.id  — Penyakit jantung kian mengokohkan posisinya sebagai beban pembiayaan kesehatan terbesar di Indonesia. Sepanjang dekade 2015 hingga 2025, BPJS Kesehatan mencatat telah menggelontorkan dana fantastis melebihi Rp100 triliun untuk membiayai penanganan 172,3 juta kasus penyakit jantung di tanah air.

 

banner 325x300

Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah, mengungkapkan adanya lonjakan eksponensial, baik dari segi jumlah kasus maupun realisasi pembiayaan penyakit jantung dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir.

 

“Tahun 2015, terdapat 4,6 juta kasus penyakit jantung yang ditanggung BPJS Kesehatan dengan biaya Rp4,4 triliun. Angka tersebut melesat tajam hingga pada tahun 2025 mencapai 29,8 juta kasus dengan total biaya menyedot anggaran hingga Rp17,4 triliun,” terang Rizzky, Selasa (29/09/2026).

 

Raja Penyakit Katastropik di Indonesia

 

Di antara jajaran penyakit kronis berbiaya mahal (katastropik)—seperti gagal ginjal, stroke, dan kanker—penyakit jantung konsisten menempati urutan teratas pengeluaran Program JKN.

 

Sebagai perbandingan pada rentang dekade yang sama:

 

Gagal Ginjal (Urutan ke-2): Menyedot biaya Rp83,8 triliun untuk 81,2 juta kasus.

 

Kanker (Urutan ke-3): Menyerap anggaran Rp66 triliun untuk penanganan sekitar 45 juta kasus.

 

Secara keseluruhan pada tahun 2025 saja, BPJS Kesehatan mencatat total pengeluaran sebesar Rp50,3 triliun hanya untuk membiayai 59,9 juta kasus penyakit katastropik. Angka ini memakan porsi hingga 26,42% dari seluruh total biaya pelayanan kesehatan JKN.

 

“Padahal, penyakit kronis sejatinya sebagian besar dapat dicegah melalui deteksi dini dan perubahan pola hidup sehat,” tegas Rizzky.

 

Ancaman Usia Muda dan Terobosan Prolanis Muda

 

Fenomena mengkhawatirkan lainnya adalah pergeseran pola demografi pasien. Penyakit jantung dan penyakit kronis lain yang dahulu identik dengan lansia, kini semakin marak menyerang kelompok usia produktif.

 

Merespons ancaman tersebut sekaligus memperingati Hari Jantung Sedunia, BPJS Kesehatan meluncurkan inovasi program Prolanis Muda (Program Pengelolaan Penyakit Kronis) yang difokuskan untuk menekan risiko penyakit kronis pada masyarakat di bawah usia 45 tahun.

 

Melalui Prolanis Muda, BPJS Kesehatan menggandeng komunitas, fasilitas kesehatan, tenaga medis, serta para pemangku kepentingan untuk menggalakkan gerakan promotif-preventif secara masif.

 

Langkah Tepat: Skrining 5 Menit Cegah Risiko Seumur Hidup

 

Sebagai fondasi pencegahan, BPJS Kesehatan mengimbau seluruh peserta JKN berusia 15 tahun ke atas untuk memanfaatkan layanan Skrining Riwayat Kesehatan berkala secara gratis satu tahun sekali.

 

Layanan deteksi dini ini dapat diakses secara cepat (hanya memakan waktu 5–10 menit) melalui berbagai kanal digital maupun langsung:

 

Aplikasi Mobile JKN

 

Layanan Whatsapp PANDAWA: 08118165165

 

Situs Resmi: www.bpjs-kesehatan.go.id

 

Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) tempat peserta terdaftar

 

Melalui pengisian kuisioner sederhana mengenai pola hidup dan riwayat penyakit keluarga, potensi risiko kesehatan peserta dapat diantisipasi lebih awal sebelum berlanjut ke tahap klinis yang berat.

 

“Makin cepat terdeteksi, makin cepat diantisipasi dan ditangani. Jangan lupa untuk memastikan status kepesertaan JKN Anda selalu aktif. Dengan status yang aktif, masyarakat bisa tenang berobat kapan saja karena ada kepastian jaminan perlindungan dari negara,” pungkas Rizzky.

 

( R-01 /R-26 /WIS/Novi /pimred BFN )

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *