banner 728x250

DISRUPSI DIGITAL MENGGUNCANG PERS, AKHMAD MUNIR: VERIFIKASI DAN INTEGRITAS TAK BOLEH HILANG

banner 120x600
banner 468x60

BANDUNG, Faktadetiknews.biz.id — Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Akhmad Munir menegaskan, di tengah derasnya arus informasi digital dan perkembangan kecerdasan buatan (AI), pers tetap memiliki peran strategis dalam memastikan masyarakat memperoleh informasi yang benar dan akurat.

 

banner 325x300

Menurutnya, kehadiran pers yang menjalankan kerja jurnalistik secara profesional justru menjadi energi positif bagi bangsa untuk terus maju dan berkembang.

 

“Sekarang kehadirannya untuk memastikan informasi yang diterima masyarakat adalah informasi yang benar dan akurat menjadi energi positif untuk bangsa ini, untuk maju dan tumbuh berkembang,” kata Akhmad Munir saat menghadiri pelantikan Ketua PWI Jawa Barat Tantan Sulthon beserta jajaran pengurus periode 2026–2031 di Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Jumat.

 

Munir mengatakan, tantangan yang dihadapi insan pers saat ini tidak lagi sebatas persaingan antarperusahaan media. Perubahan ekosistem informasi akibat pesatnya media sosial, platform digital, hingga teknologi AI telah mengubah cara masyarakat memperoleh dan memproduksi informasi.

 

Informasi dapat dibuat dan disebarluaskan siapa saja hanya dalam hitungan detik. Kondisi tersebut membuat wartawan dituntut semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi.

 

“Apakah mampu, inilah tantangannya. Oleh karena itu, di tengah tantangan kita menghadapi disrupsi media,” ujarnya.

 

Meski demikian, Munir menekankan bahwa perkembangan teknologi tidak boleh membuat pers kehilangan jati dirinya. Keunggulan media profesional tetap berada pada proses jurnalistik yang mengedepankan verifikasi, akurasi, konfirmasi, keberimbangan, kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik, serta tanggung jawab kepada publik.

 

Menurut dia, wartawan tidak boleh hanya mengejar kecepatan dalam menyampaikan informasi. Kebenaran dan kredibilitas harus tetap menjadi kekuatan utama pers.

 

“Pers harus menguatkan yang benar, melakukan konfirmasi,” tegasnya.

 

Ia mengingatkan, disrupsi teknologi tidak semestinya dijawab dengan ketakutan. Sebaliknya, wartawan harus mampu memanfaatkan perkembangan teknologi untuk meningkatkan kualitas kerja jurnalistik, sekaligus memperkuat kompetensi dan integritas profesi.

 

Namun, teknologi, termasuk AI, tetap tidak dapat menggantikan tanggung jawab wartawan dalam menentukan kebenaran sebuah informasi.

 

Wartawan tetap memiliki tanggung jawab untuk melakukan verifikasi, menghadirkan konteks, melakukan konfirmasi kepada pihak terkait, menjaga independensi, serta mempertanggungjawabkan setiap produk jurnalistik kepada masyarakat.

 

“Teknologi tidak dapat menggantikan tanggung jawab wartawan dalam menentukan kebenaran informasi, melakukan verifikasi, memberikan konteks dan mempertanggungjawabkan produk jurnalistik kepada publik,” katanya.

 

Munir menegaskan, perubahan teknologi memang akan mengubah cara wartawan bekerja. Namun, prinsip dasar jurnalistik tidak boleh ikut berubah.

 

Integritas, verifikasi, independensi, akurasi dan tanggung jawab kepada publik, menurut dia, harus tetap menjadi fondasi pers di tengah perubahan zaman.

 

Ia menambahkan, PWI sebagai organisasi wartawan dengan anggota lebih dari 30 ribu orang memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga kemerdekaan pers, mencerdaskan kehidupan masyarakat, serta memberikan kontribusi terhadap kemajuan bangsa dan negara.

 

“Prinsip integritas, verifikasi, independensi dan tanggung jawab kepada publik tidak boleh berubah,” pungkasnya. (Red)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *