JAKARTA, faktadetiknews.biz.id — Narasi mengenai presenter Najwa Shihab yang disebut terlibat perdebatan sengit dengan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam program “Rosi” hingga meninggalkan studio, dipastikan bukan peristiwa yang dapat dipercaya.
Narasi tersebut beredar dengan mengatasnamakan tayangan televisi dan menggambarkan seolah-olah Najwa Shihab membongkar “rahasia” sistem keuangan yang disebut mampu membuat masyarakat memperoleh keuntungan besar melalui perdagangan otomatis berbasis kecerdasan buatan.
Dalam narasi yang beredar, Najwa bahkan disebut menyebut sebuah platform bernama “Zamrud Hartanika” dan mengklaim sistem tersebut mampu menghasilkan keuntungan hingga ratusan juta rupiah setiap bulan.
Cerita itu juga dilengkapi dialog dramatis antara Najwa dan Perry Warjiyo. Dalam narasi tersebut, Perry diklaim meninggalkan studio setelah menolak tudingan Najwa terkait sistem perbankan dan perdagangan otomatis.
Namun, klaim tersebut tidak didukung bukti yang kredibel.
Pemeriksaan fakta terhadap narasi serupa menyebut bahwa tidak terdapat bukti valid mengenai adanya peristiwa seperti yang digambarkan dalam cerita tersebut. Bahkan, materi visual yang digunakan dalam penyebaran narasi tersebut diduga merupakan hasil manipulasi atau dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan.
Nama Tokoh Publik Dicatut
Modus dalam narasi tersebut patut diwaspadai karena menggunakan nama tokoh publik untuk membangun kepercayaan masyarakat.
Nama Najwa Shihab dan Perry Warjiyo ditempatkan sebagai tokoh utama dalam cerita agar seolah-olah terdapat pengakuan dari figur terkenal mengenai sebuah metode investasi yang diklaim mampu menghasilkan keuntungan besar.
Narasi kemudian diarahkan kepada promosi platform perdagangan otomatis bernama “Zamrud Hartanika”.
Pola seperti ini menjadi tanda bahaya bagi masyarakat. Penggunaan nama, foto, video, maupun kutipan tokoh publik tidak serta-merta membuktikan bahwa tokoh tersebut benar-benar memberikan dukungan terhadap suatu produk investasi.
Janji Keuntungan Besar Patut Dicurigai
Cerita tentang seseorang yang disebut hanya bermodal Rp4,2 juta kemudian mampu memperoleh penghasilan Rp136,7 juta per bulan juga menjadi bagian penting dari narasi tersebut.
Klaim keuntungan fantastis seperti itu perlu diverifikasi secara ketat. Dalam aktivitas perdagangan atau investasi, keuntungan tidak pernah dapat dianggap sebagai sesuatu yang pasti karena selalu terdapat risiko kerugian.
Masyarakat juga perlu berhati-hati terhadap platform yang meminta calon pengguna melakukan pendaftaran, menyetor dana, memberikan data pribadi, atau mentransfer uang dengan iming-iming keuntungan otomatis.
Jangan Mudah Percaya Konten Viral
Penyebaran informasi palsu dengan memanfaatkan figur publik dan teknologi AI semakin sulit dibedakan dari informasi asli.
Karena itu, masyarakat disarankan tidak langsung mempercayai video, foto, maupun transkrip percakapan yang beredar di media sosial.
Setiap klaim mengenai investasi dan keuntungan finansial sebaiknya diperiksa melalui sumber resmi dan lembaga berwenang sebelum seseorang menyerahkan uang ataupun data pribadi.
Narasi mengenai “debat panas” Najwa Shihab dengan Perry Warjiyo tersebut, dengan demikian, lebih tepat diperlakukan sebagai konten menyesatkan yang perlu diwaspadai, terutama karena di dalamnya terdapat promosi terhadap platform yang diklaim mampu menghasilkan keuntungan secara otomatis.
Masyarakat diminta tidak menjadikan narasi viral tersebut sebagai dasar untuk melakukan investasi atau mentransfer dana.


















