banner 728x250

Akhmad Munir: Wartawan Tak Akan Mati di Tengah Gempuran AI

banner 120x600
banner 468x60

BATAM, faktadetiknews.biz.id – Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Akhmad Munir, menegaskan profesi wartawan tidak akan pernah mati meski menghadapi gempuran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

 

banner 325x300

Hal itu disampaikan Munir saat melantik pengurus PWI Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) di Hotel Harmoni One, Batam, Kamis (17/9/2026).

 

Di hadapan pengurus PWI Kepri, Munir mengajak insan pers melihat kembali perjalanan profesi jurnalistik yang terus mengalami perubahan seiring perkembangan teknologi.

 

Ia mengenang masa ketika wartawan masih menulis dengan tangan, mengetik menggunakan mesin tik, kemudian mengirim berita melalui kantor pos maupun faksimili.

 

Kini, pola kerja tersebut berubah drastis. Teknologi memungkinkan wartawan memproduksi dan mendistribusikan berita dalam hitungan menit.

 

“Sekarang dengan kemajuan teknologi, wartawan dituntut untuk segera beradaptasi. Bahkan saat ini ada teknologi di mana wartawan cukup berbicara dan langsung berubah menjadi teks berita,” ujar Munir.

 

Menurutnya, adaptasi teknologi tidak cukup hanya pada proses produksi berita. Wartawan juga dituntut mampu mengelola media sosial dan berbagai platform digital dengan tetap berpegang pada kaidah jurnalistik.

 

Digitalisasi, kata dia, harus dimanfaatkan secara profesional agar dapat memberikan nilai tambah bagi wartawan dan perusahaan media.

 

Munir juga menekankan pentingnya mempertahankan karakter wartawan sebagai insan pers yang memiliki keberpihakan pada kepentingan publik melalui kerja jurnalistik yang profesional.

 

Ia melihat derasnya arus informasi di media sosial, termasuk informasi yang belum jelas kebenarannya, justru menjadi peluang bagi media arus utama.

 

Di tengah banjir informasi tersebut, masyarakat tetap membutuhkan informasi yang benar, jernih, berimbang, dan akurat.

 

“Ketika masyarakat dibanjiri berita masif yang tidak jelas, maka pers harus hadir. Pers harus menjadi penjernih, pencerah, dan menjadi lembaga pembenar informasi atau clearing house,” tegasnya.

 

Terkait kekhawatiran terhadap perkembangan AI, Munir menilai teknologi tersebut memang memiliki kemampuan yang semakin canggih. AI dapat membantu membuat teks, menduplikasi wajah, hingga memanipulasi foto.

 

Namun, menurut dia, terdapat aspek fundamental dalam kerja jurnalistik yang tetap membutuhkan manusia, yakni proses verifikasi yang dilandasi pertimbangan, pengalaman, pikiran, dan hati nurani.

 

“AI memang bisa menduplikasi itu semua. Tetapi AI tidak punya yang namanya verifikasi hati dan perasaan. AI boleh membantu men-support dan melengkapi profesi kita, tetapi roh dan jiwanya tetap ada pada verifikasi melalui pikiran dan hati nurani,” paparnya.

 

Karena itu, Munir meminta wartawan, khususnya di Kepri, tidak merasa kecil hati menghadapi perkembangan teknologi yang semakin pesat.

 

Ia mendorong wartawan terus meningkatkan kompetensi, beradaptasi dengan perubahan, sekaligus mempertahankan profesionalisme dan integritas jurnalistik.

 

“Teruslah beradaptasi dan teguhkan jiwa profesionalisme. Jangan sampai para wartawan malah termanfaatkan oleh teknologi, tetapi justru Anda harus berada di atas teknologi itu sendiri untuk bisa menjadi penerang informasi yang betul-betul baik, berkualitas, dan bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. (Red)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *