SURABAYA, faktadetiknews.biz.id – Kemacetan panjang menuju Pelabuhan Penyeberangan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, kembali menjadi perhatian. Antrean kendaraan tidak semata-mata dipicu lonjakan volume kendaraan, tetapi juga berkaitan dengan kapasitas dermaga, kondisi cuaca, proses bongkar muat, hingga antrean kendaraan berat yang meluber ke jalan nasional.
Pengamat transportasi Djoko Setijowarno mengatakan, kemacetan di kawasan Ketapang merupakan akumulasi sejumlah persoalan teknis, operasional, dan kondisi alam yang saling berkaitan.
“Kemacetan panjang di Pelabuhan Penyeberangan Ketapang, Banyuwangi, merupakan dampak dari akumulasi masalah teknis, operasional, hingga kendala alam yang saling terkait,” kata Djoko kepada detikJatim, Kamis (17/9/2026).
Menurutnya, salah satu persoalan utama berada pada kapasitas dermaga. Jumlah dan kemampuan dermaga yang beroperasi belum selalu seimbang dengan volume kendaraan yang harus dilayani.
Gangguan teknis maupun perawatan pada salah satu dermaga juga dapat menurunkan kapasitas pelayanan secara signifikan.
“Masalah utama di Ketapang sering kali bukan disebabkan oleh kurangnya armada penyeberangan, melainkan kapasitas dan daya tampung dermaga yang terbatas,” ujarnya.
Cuaca Ikut Memengaruhi
Selain persoalan infrastruktur, kondisi cuaca di Selat Bali turut memengaruhi kelancaran penyeberangan. Gelombang tinggi, angin kencang, dan arus kuat dapat memperlambat proses kapal bersandar hingga menyebabkan layanan penyeberangan ditutup sementara.
Djoko menyebut penghentian operasional selama beberapa jam saja dapat berdampak besar terhadap antrean kendaraan.
“Penutupan beberapa jam saja berimbas pada penumpukan kendaraan yang membutuhkan waktu berhari-hari untuk kembali pulih normal,” imbuhnya.
Kemacetan semakin kompleks ketika volume kendaraan meningkat pada periode libur panjang, akhir pekan, maupun musim mudik. Kendaraan logistik, khususnya truk, menjadi salah satu jenis kendaraan yang turut mendominasi antrean menuju pelabuhan.
Buffer Zone Belum Optimal
Persoalan lainnya adalah belum optimalnya ketersediaan buffer zone atau area penampungan kendaraan sebelum memasuki pelabuhan.
Menurut Djoko, jalur arteri utama Pantura Banyuwangi yang mengarah ke Pelabuhan Ketapang belum memiliki kantong penampungan kendaraan atau holding area yang ideal.
“Jalur arteri utama Pantura Banyuwangi yang mengarah ke pelabuhan belum memiliki buffer zone (kantong parkir darurat) atau sistem kantong penampungan (holding area) yang ideal,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat antrean kendaraan berpotensi meluber hingga ke jalan nasional. Dampaknya bukan hanya dirasakan pengguna jasa penyeberangan, tetapi juga masyarakat yang melintas di jalur tersebut.
Antrean yang memanjang bahkan dapat menimbulkan kemacetan berantai hingga jalur Pantura Situbondo-Banyuwangi.
Djoko juga menilai persoalan di Ketapang tidak dapat dipisahkan dari kondisi Pelabuhan Gilimanuk di Bali. Kedua pelabuhan merupakan bagian dari satu sistem penyeberangan sehingga gangguan di salah satu sisi dapat memengaruhi sisi lainnya.
Karena itu, menurutnya, pengelolaan arus kendaraan dan layanan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk membutuhkan koordinasi yang seimbang, termasuk pengaturan kapasitas dermaga, area penyangga kendaraan, serta antisipasi terhadap kondisi cuaca. (Red)


















